kankinkun

Feb 1

Tävlan

Haru adalah sisi tak terungkap. Menyendiri merupakan caranya mengisi energi. Tak pernah masalah baginya berdiam di kamar mengerjakan hal yang ia sukai. Ia peka pada nada, pada lirik. Maka sepanjang hari ia biasa mencipta musik.

Hari adalah duta besar kata cerah. Ia pernah kehilangan dompet, kehilangan baju karena tertukar di jasa binatu, kehilangan sebelah sepatunya di warnet yang mengharuskan pengunjung membuka alas kaki, namun tak pernah kehilangan senyum. Ia rajin bertukar sapa dan dikenal ramai orang.

Layaknya anak kembar seluruh dunia, sedari kecil Haru dan Hari diperlakukan dengan azas keadilan sosial. Bila Ibu mereka melihat baju power ranger di pasar, beliau akan belikan yang warna merah untuk Hari, dan biru untuk Haru. Bila musim masuk sekolah sudah tiba, Ayah mereka akan menyediakan dua pasang sepatu Bata yang serupa.

Suatu ketika, Ayah dan Ibu berencana menghadiahi Hari dan Haru laptop kembar —alias sama persis ditinjau dari segala spesifikasi— untuk keperluan studi mereka di Perguruan Tinggi.

Haru lah yang justru pertama kali mencetuskan pemberontakan. “Ri, gua gak mau yang itu, Ri. Gua kan jurusannya IT, gua perlu yang lebih enak dikulik.” Hari menyokong penuh. “Setuju! Kita kan udah umur segini, masa laptop juga harus samaan?”

Demi melatih keahlian diplomasi sebagai mahasiswa jurusan Hubungan Internasional, Hari diutus menghadap Ayah. Setelah ia jelaskan dengan hati-hati bahwa mereka ingin berkembang sebagai individu yang mandiri dan tak melulu dikaitkan, tradisi penyamarataan itu berakhir.

Meskipun berseberangan sifat, Hari dan Haru kompak bukan main. Hari diberi kehormatan jadi pendengar pertama —dan kadang produser kacang— untuk lagu Haru yang baru jadi. Haru pula kerap diperkenalkan dan diajak bepergian bersama teman-teman Hari yang, saking banyaknya, tak muat ditempatkan satu mobil.

Di antara yang banyak itu ada kembang yang berperangai halus dan malu-malu, oleh orangtuanya diberi nama Mentari. Bersanding dengan anak-anak kota besar yang perangkat soleknya berpuluh macam, Mentari ibarat mutiara; hanya perlu sedikit polesan untuk mengilap.

Sejak Mentari bergabung dalam lingkar pertemanan itu, Hari semakin cerah dalam artian bright, sunny, vivid, rosy, lucid, dan merry. Beberapa kali ia menyambangi toko buku dan menginspeksi rak humor. Di depan Mentari, ia bukan hanya Hari si piawai debat, tapi juga Hari Juara Lawak.

Sejak Mentari bergabung dalam lingkar pertemanan itu, Haru menemukan penggerak. Inspired, motivated, driven. Sepulang kuliah, Haru bergegas masuk rimbanya. Kadang terjaga sampai subuh, giat mengolah kombinasi kata dan nada. Buahnya adalah empat lagu dengan judul yang tak jauh-jauh: Sunbeam, Sunshine, Sunrise, serta Eclipse.

Haru dan Hari, keduanya mengharap Mentari.


  1. sulfiparumpa reblogged this from namasayakinsi
  2. tuwagapatmanam reblogged this from namasayakinsi
  3. inekewildana reblogged this from namasayakinsi
  4. namasayakinsi posted this