elbooga:

Penguin Doppelgänger.
From two different pages in my sketchbook.

elbooga:

Penguin Doppelgänger.

From two different pages in my sketchbook.

excerpt from an abandoned draft (2012)

“Kak, kenapa ya gue kalau ngeliat Facebook sering ngerasa sayu? Kayak lompat-lompat gitu, dari liat orang yang gigih banget jualan baju atau kue sampe nge-tag satu kelurahan, terus liat orang yang ngupdate foto jalan-jalan melulu, keliling dunia, padahal masih kuliah.”

“Mau tau supaya nggak sayu? Tanam aja di pikiran lo kalau setiap orang bahagia dengan cara dan jalannya masing-masing. Belum tentu yang jualan baju sehari-harinya susah terus, nggak bahagia terus. Belum tentu juga yang keliling dunia nggak kena masalah sama sekali, seneng terus. Lagian yang kayak gitu jangan dimasukin ke hati banget. Pikirkan saja masa depanmu nak, nak.”

Kusut

Tak perlu waktu lama bagi Inu untuk bisa melihat bahwa anak ini —anak yang tengah duduk di seberang meja kopi dan sibuk memperbaiki tali headset-nya yang terbelit kusut— punya masalah besar. Bukan dengan orang lain, bukan dengan dunia, bukan dengan kopinya, bukan dengan siapa-siapa, tapi dengan persepsinya terhadap diri sendiri.

“Nggak suka difoto, Nu. Kan udah pernah bilang, nggak suka.”

“Kenapa?” Inu bersikukuh menaikkan kameranya, siap memerangkap momen.

“Nggak suka aja. Nggak bagus.”

“Nggak usah pose kok, senyum aja. Ngambilnya medium close-up.”

“Tuh kan apalagi medium close-up. Makin nggak bagus.”

“Yaudah, rugi.”

Inu mengalihkan bidikan ke luar jendela; deretan pohon di kiri-kanan jalan tampak baru meranggas, dahan-dahan tak berdaun mencuat tajam, burung-burung bertengger sambil mematut badan, awan-awan menggantung mendung. Fotogenik

“Kamu tau, Dis, siapa orang yang menurut saya paling cantik sekecamatan, sedunia, sejagad raya?”

“Artis apa model?”

“Nggak tergantung profesinya sih.”

“Jadi siapa?”

“Orang-orang yang bahagia. Happy people are beautiful. The happier, the more beautiful.”

Yang diajak bicara tak memberi respons. Ia makin khusyuk memisahkan tali headset yang kini justru tersimpul mati.

GEMES BANGET KAN \(;~~;)/ Ini balita Jepang, namanya Kina. Umurnya dua taun lebih, instagram famous, mamahnya super kreatif dan artistik, breakfast menu-nya selalu unyu-unyu, dan nurut dipakein segala jenis baju. 

akhirulsyah:

don’t be serious, be sincere.. :)

akhirulsyah:

don’t be serious, be sincere.. :)

Step 293: When someone gives you a valid piece of criticism, don’t try to argue them out of it

adulting:

Maybe it’s a boss, or a friend, or a significant other. You’ll know it’s valid because you’ll feel the sting of recognition instead of the sting of unfairness, the former being a lot more difficult to swallow.

When that happens, just be quiet, externally and internally, for a second. You can’t undo what they said by debating it, so be a grown-up, accept that you do some things imperfectly and try to do better.

It’s not the end of the world, I promise.

Bathe in lights. Here is to make up for the previous not-so-visually-pleasing photo. How are you guys? I’ve missed this. I’ve missed you.

Bathe in lights. Here is to make up for the previous not-so-visually-pleasing photo. How are you guys? I’ve missed this. I’ve missed you.

Excuse them flared nostrils and unflattering cheeks. The strawberry was really sour, hence my expression, teehee.

Excuse them flared nostrils and unflattering cheeks. The strawberry was really sour, hence my expression, teehee.

Lari

© Kinsia Eyusa

Ada guru BP baru di sekolah. Wajahnya seperti kembar identik dengan Mira Lesmana, lengkap dengan rambut keriwil dan kulit sawo matang. Yang uniknya, bila guru BP pada umumnya hanya bertugas mendamaikan murid yang berkelahi, menasehati anak yang sering bolos/bandel/tidak punya motivasi pergi sekolah, atau jadi tempat curhat murid-murid perempuan yang baru putus cinta, guru BP kami kali ini bisa dibilang pro-aktif.

Namanya Bu Fitri, sudah pula mendapat panggilan kesayangan dari anak-anak IPS sebagai Bunda. Beliau berinisiatif mengadakan tes Minat dan Bakat untuk semua murid kelas tiga. Setiap satu dari kami diberi arahan mengisi beberapa lembar soal yang modelnya seperti tes IQ/Potensi Akademik, lalu dilanjutkan sesi wawancara one-on-one di ruangan beliau.

Berhubung alokasi jam pelajaran yang bisa dipakai untuk tes ini hanya 45 menit, giliran wawancara dibatasi tiga orang setiap minggunya, sehingga setiap murid punya waktu 15 menit untuk ditanya-tanya, menanya-nanya, dan galau masa depan. Minggu ini giliranku.

Aku melangkah mantap karena tidak lagi galau tentang pilihan jurusan dan universitas. Aku sudah diterima di jurusan bisnis di salah satu Universitas Swasta terbaik di Negeri ini. Aku bahkan menyimpan fotokopi Offer Letter-nya, kulipat kecil dan selipkan di seluk-seluk dompet.

Kuketuk pelan pintu ruangan Bu Fitri, yang berbahan kayu, bercat merah jambu.

“Ishka, ya? Masuk, Nak.”

“Lepas sepatu, Bu?”

Sambil melongok ke dalam, kuperhatikan ruang petak ukuran 4x4 itu. Lantainya licin dan mengilap, wangi lemon memenuhi ruangan, buku-buku bertema psikologi tersusun rapi di rak. Tak tampak poster-poster pembagian –seperti poster Wajib Belajar 12 tahun, Perangi Narkoba, atau Keluarga Berencana—di dinding, hanya ada satu papan besar yang ditempeli berbagai jenis kartu pos dari berbagai Negara di dunia. Funky.

“Loh nggak usah, masuk saja, dipakai sepatunya.”

Cara bicara Bu Fitri yang semi-formal dan lemah lembut mengingatkanku pada ramah-tamah ala pegawai bank. Maaf ya, Bu, tapi terkesan artifisial.

Sejurus saja aku duduk, beliau langsung menyerahkan selembar kertas; hasil tes potensi akademik-ku. “Selamat, ya, Ishka. Hasil tes kamu membanggakan.”

Aku hanya tersenyum alakadar sambil mengangguk-angguk. Kalimat itu seperti sudah di gladi resik sebelumnya, klise, lebih pantas diucapkan kalau aku menang undian sepeda motor. “Ah, paling kebetulan aja, Bu. Saya ngisi TPA-nya banyakan tebak manggis.”

“Ini bukan TPA lho, Nak. Ini tes khusus minat dan bakat, hanya formatnya saja yang sangat mirip.”

Aku meringis dalam hati. Ugh, betapa aku tidak suka dipanggil Nak. “Oh, beda ya.”

“Kamu sehabis ini mau lanjut ke mana? Sudah ada gambaran?”

“Alhamdulillah udah diterima, Bu, di jurusan bisnis.”

“Wah, bagus sekali. Memang itu ya, cita-citanya?”

“Iya, Bu. Saya mau jadi business-woman.”

Bu Fitri mengangguk, masih dengan senyum ala pegawai bank yang tidak terlalu simpul tidak pula terlalu lebar. Beliau kemudian bergerak ke topik berikutnya. “Kamu suka nonton?”

Pancingan. Jangan dikira aku seperti ikan-ikan lain. Percayalah, jika kusebutkan judul film atau genre tertentu, Bu Fitri akan lebih leluasa memulai psycho-analyze-nya: membaca aku sampai ke akar-akar pikiran. Aku sudah bulat tekad datang ke ruangan beliau sekadar untuk mengambil hasil, berbincang sedikit, lalu menegaskan bahwa thank you very much, Ibu, I already know where I want to go after the graduation, and I have no particular bakat dan minat so there is no need to sweat for that. Pokoknya, sesi seperempat jam ini tidak akan jadi jam curhat pribadi.

“Nonton yang gimana, Bu? Nonton film atau nonton tivi?” Kuulur pertanyaan beliau.

Jawaban Bu Fitri menggantung. “Ya nonton.”

“Lumayan.” Balasanku tak kalah gantung.

“Film favorit kamu apa?”

“Apa aja sih, terutama yang gratisan di tivi, hehe. Kayak film Boboho, Jackie Chan, Home Alone, Warkop. Saya juga nonton FTV.”

“Pernah nonton Finding Nemo nggak?” Apa pula ini tiba-tiba membahas kartun.

“Pernah.”

“Suka?”

“Nggak. Cheesy.”

Lagi-lagi Bu Fitri hanya bereaksi dengan senyum. Kuamati ekspresi I know it all yang terbersit di mukanya dengan agak kesal. You don’t know it all, Bu, because we’ve just met three weeks ago.

“Bu ini kenapa membahas film? Hasil tes minat dan bakat saya jadi sutradara, ya?”

Atau jangan-jangan sebentar lagi beliau akan tanya apa aku pernah nonton Laskar Pelangi, apa aku tahu siapa produsernya, dan apakah sang produser itu kelihatan mirip seseorang. Verifikasi.

Beliau tertawa. “Bukan. Sini, Ibu pinjem hasil tesnya.”

Kuserahkan lembar itu padanya.

Bu Fitri menatapku dalam-dalam. “Dari hasil ini, Ibu ngeliatnya kamu punya banyak potensi, punya banyak bakat, sangat sangat mungkin berkembang dan sukses nantinya. Tapi, masih ada yang menghalangi kamu untuk mengembangkannya. Ibu boleh tahu, Nak, apa masalahnya? Ya, kalau kamu bersedia cerita.”

Aku benci reaksi hati yang mendadak nyesek dan mata yang begitu cepat berkaca-kaca bila ada orang asing yang berhasil melihat menembus ke dalam padahal sudah kupasang beratus lapis pertahanan.

Apa masalahnya?’

Singkat dan ringkas kan?

Namun begitu mengundang, begitu melemahkan.

“Ah, nggak ada kok, Bu.”

Entah Bu Fitri akan membeli jualan dusta atau menepisnya, yang jelas aku ogah menyerah hanya karena satu tanya. “Saya emang nggak punya bakat dan minat khusus aja kali.”

Bu Fitri tetap tersenyum. “Orangtua Ishka bekerja kan, Nak? Ibu boleh tahu, pekerjaannya apa?”

Ini dia yang paling kukhawatirkan; merambah lahan pribadi.

“Dokter.”

“Ohya? Ayah atau Ibu?”

“Dua-duanya.”

“Kamu padahal cocok lho, Nak, jadi dokter. Teliti, caring, curiosity tinggi, tanggap, cepat beradaptasi dan menganalisis keadaan.”

“Ya ampun, berlebihan itu, Bu. Saya biasa aja.”

Aku masih apatetik. Toh, yang namanya guru BP memang sudah dibekali ilmu psikologi pendidikan dan macam-macam ilmu lainnya. Dengan kata lain, sudah dilatih untuk mendengar, memberi tanggapan, menganalisa. They know which string to pull. Pujian hanyalah salah satu alat untuk membuat mangsa lebih terbuka, juga cara cepat menumbuhkan kepercayaan.

“Ibu kan cuma baca hasil tes kamu. Ibu lihat di rapor juga biologi sama kimia-nya excellent. Bahasa Inggris, oke banget. Nilai rapor bagus terus. Kamu bisa ikut PMDK dengan nilai cemerlang kayak gitu. Nggak mau ya, jadi dokter?”

“Enggak deh, Bu.”

“Kenapa?”

Lagi-lagi pertanyaan tepat sasaran. Aku serasa diobrak-abrik, kelimpungan menyembunyikan apa yang masih bisa disembunyikan. Semoga lima belas menit cepat berlalu. Aamiin.

“Saya takut jarum suntik.” Aku beralasan. Dangkal, memang.

“Oh.”

“Lagipula enakan jadi business-woman. Lebih bebas, enak ngatur waktunya.”

Tak sedikitpun hilang ketenangan dan senyumnya, Bu Fitri melipat hasil tesku dan memasukkannya ke dalam sebuah amplop. Akhirnya, siksaan ini berakhir juga.

“Kamu tahu? Kamu itu cerdas sekali lho, Nak.”

Aku terhenyak. Belum pernah ada yang bilang aku cerdas. Bukan pintar, berprestasi, pandai, cerdik, tapi cerdas. Enak sekali kedengarannya.

“Walaupun baru sebentar, tapi Ibu bangga jadi guru kamu.”

Seterusnya Bu Fitri kubiarkan bermonolog, aku diam, hilang segala kosakata.

“Sayang sekali kalau kamu yang justru menghalangi diri untuk maju. Kamu punya bakat, kenapa harus disembunyikan? Kamu punya kemampuan, kenapa tidak dikembangkan? Bisnis juga bagus lho, bagus sekali. Tapi jangan sampai bisnis itu hanya pilihan hasil lari. Kamu belajar jujur sama diri sendiri, ya, Nak? Pokoknya Ibu doakan yang terbaik buat masa depan kamu.”

Dalam keadaan pasrah, merasa bodoh  (dan kalah, dan cengeng, dan payah), bendungan air mataku akhirnya jebol.

“Kenapa? Cerita ya?”

Bu Fitri menyodorkan tisu. Ini mulai terasa seperti adegan sinetron.

“Bu, sebenernya saya udah jadi anak baik apa belum sih?”

“Lho kok ngomong gitu?”

“Saya pengen ngertiin orangtua saya, karna mereka kerja buat saya dan adek saya, cari nafkah, capek-capek seharian. Tapi susah, Bu,” aku menjelaskan dengan terpatah-patah.

“Kenapa? Waktunya kurang, ya?” Lagi-lagi senar yang tepat.

“Salah nggak sih, Bu? Saya nggak papa waktu Mama dan Ayah bilang mereka ga bisa sama-sama lagi. Yang penting mereka bahagia deh. Setelah itu juga kehidupan saya nggak lantas jadi broken home kayak di film-film Amerika, yang anaknya dipukulin, bapaknya mabok, ibunya kabur. Enggak. Hidup saya dan adik saya normal aja kok.”

Bu Fitri menyodorkan lebih banyak tisu. Aku mendadak merasa tidak ramah lingkungan melihat gumpalan tisu yang sudah kuhabiskan.

“Saya cuman.. cuman pengen lebih sering ngobrol-ngobrol biasa, nonton tivi bareng, makan ke luar. Itu juga nggak mesti Mama sama Ayah sama-sama ikut kok. Sama Ayah aja, atau sama Mama aja, sesekali, cukup. Tapi mungkin saya aja kali yang kebanyakan minta. Saya percaya Ayah sama Mama sayang kok sama saya dan adek. Ya, kayak yang di tumblr-tumblr, sometimes our parents love us not the way we want them to. But what’s important is that they do, they do love us.”

Satu hal yang paling kuhindari dalam cerita-cerita sendu seperti ini adalah membuat orangtuaku di pihak yang bersalah. They are not.

“Kamu bijaksana banget sih? Ibu jadiin asisten ya?”

Aku mendelik, beliau tertawa.

“Pernah bilang nggak, sama Mama-Ayah kalau Ishka pengen lebih sering bersama-sama mereka?”

“Nggaklah, Bu. Kasian, nambah-nambahin beban pikiran aja. Lagian kan mereka melaksanakan tugas kemanusiaan, lagi nyari nafkah juga buat saya dan adik sekolah. Saya yang wajib ngerti. Tapi lebih baik saya nggak usah jadi dokter. Saya nggak mau nanti anak saya kesusahan ngertiin saya. Soalnya ternyata ngertiin itu nggak mudah.”

Sembari mengelap hidung, kutilik jam di meja. Ini sudah hampir setengah jam, aku sudah memakai jatah wawancara orang.

“Bu, ini gakpapa? Saya udah lebih lima belas menit lho di sini? Nanti yang gilirannya sehabis saya kelamaan nunggu, heran dia, kenapa  nggak dipanggil-panggil.”

“Ini, ini yang mesti kamu kurangin,” Bu Fitri menatapku dalam-dalam.  “Kamu terlalu sering berkonflik dengan diri kamu sendiri, konflik batin, semata-mata demi menghindari konflik sama orang lain. Benar?”

“Saya nggak suka konflik.” Jawabanku tegas, cepat, di sela sedu sedan yang belum mau berhenti.

“Nobody likes conflicts. Tapi kadang, konflik memang diperlukan. Dari situ kita sama-sama belajar. Go easy on yourself, okay?”

“Yang Ibu lihat, kamu belum memaafkan. Belum maafin diri kamu sendiri, belum maafin Ayah, Mama kamu. Kamu melindungi mereka di depan orang lain, tapi menyalahkan mereka di dalam hati.”

Tangisku makin menjadi. Kenapa Bu Fitri seperti punya kemampuan meramal dan membaca pikiran?

“Nggak, Ibu nggak bisa ngeramal, kok. Emangnya dukun, haha.”

Hayoloh. Tuh, kan, bener.

“Apapun pekerjaannya, mau dokter, pilot, pegawai negeri, pengusaha, penjahit, politikus, apapun, yang namanya orangtua ya manusia juga. Nggak terlepas dari kekurangan, dari salah, luput, lupa. Ibu nggak suruh kamu berantem sama Ayah, Mama kamu. Ibu cuma mau kamu komunikasikan, apa yang kamu ingin, apa yang kamu simpan. Mungkin aja ini cuma soal pembagian waktu, soal ketidaktahuan.”

“Ayah, Mama kamu mungkin nggak sadar mereka kurang meluangkan waktu untuk ngobrol, jalan, sama kamu dan adikmu. Bukan sengaja. Ibu juga pernah jadi anak orang. Therefore I know how you feel. Dan Ibu kan orangtua juga. I know how they feel.”

“Kamu pasti mikirnya, kamu ngertiin semua orang karena kamu sayang. Kadang, sayang itu bukan berarti diam saja, nerima saja. Mengingatkan juga bagian dari sayang. Bahkan disiplin bisa jadi ungkapan rasa sayang.”

Aku tidak lagi memandang Bu Fitri sebagai ahli basa-basi yang kepo akan urusan pribadiku. Dari kata-katanya kutangkap maksud yang baik dan tulus, dan aku sangat berterimakasih untuk itu.

“Ibu kenapa pake ngajar di sini sih? Harusnya masuk tivi, kolaborasi sama Mario Teguh.”

“Hahahaha,” beliau akhirnya tertawa lepas. “No, darling. That’s not my cup of tea.” Ibu ini lulusan mana sih? Funky amat.  

Aku bangkit dari kursi dan pamit kembali ke kelas.

“Sering-sering main sini ya. Kamu pasti tertarik sama salah satu judul buku di rak, kan? Pas kamu masuk mata kamu udah fokus ke sana aja.”

“Oke.”

Mataku bengkak, mukaku sembab. Entah apa yang harus kujelaskan pada anak-anak kelas nanti. Tapi hatiku lapang, jadi, peduli amat lah.

“Oh, iya! Gambar kamu bagus. Nanti sementara nganggur nunggu kuliah, ambil kursus singkat Design deh,” Bu Fitri menunjuk gambar-gambar di kolom kecil yang kulukis karena salah satu bagian tesnya memang menyuruh melukis.

“Dan jangan lupa diskusikan sama Mama dan Ayah! Kasih liat dong, gambar-gambar kamu yang sebelumnya. Mereka berhak tahu, anaknya punya potensi jadi seniman hebat dan dokter yang nggak kalah hebat.”

Sebelum aku kembali berlinang-linang terharu, kuanggukkan kepala dan kulangkahkan kaki keluar.

Dengan posisi kepala menyembul dari arah luar, kuteriakkan yang tak sempat kukatakan di dalam.

“Makasih ya Bu! Makasih.”

Dua kali. Semoga beliau tahu betapa aku menghargai setengah jam ini.

I don’t know a perfect person. I only know flawed people who are still worth loving.