kankinkun

Feb 15

Arah (part 5)

Gigi ingin cepat sampai. Taksi yang ia tumpangi tiba-tiba mengalami malfungsi heater dan cooler sekaligus sehingga supir terpaksa membuka lebar-lebar jendela mobil. Udara dingin masuk lewat celah sweaternya yang kurang tebal dan mulai menggigit-gigit kulit. Sungguh ia ingin cepat sampai rumah; ingin sekali.

Sepanjang jalan dilihatnya deretan pertokoan yang tutup, trotoar yang lengang, dan salju halus yang turun perlahan. Ini kombinasi yang paling dibencinya: dingin, dingin yang sepi.

Taksi akhirnya berhenti di depan alamat yang ia sebutkan. Pak supir yang sudah tua dan berjanggut putih membantu Gigi menurunkan kopernya dari bagasi belakang mobil. Baju dingin yang dipakai Bapak itu sudah usang, seperti sudah ratusan kali digilas dalam mesin cuci. Gigi jatuh iba. Diberinya sedikit tips agar Pak Taksi bisa segera memperbaiki kerusakan di mobilnya, atau membeli baju dingin baru.

Setelah bersusah payah menyeret koper sampai ke depan pintu kaca raksasa, Gigi bergegas menurunkan ransel dari sandangan. Tangannya merogoh-rogoh, berusaha mengeluarkan kartu pass dari kantung rahasia yang terjahit di bagian dalam ransel. Ia lalu memindai kartu itu di atas alat kecil yang kadang berbunyi-bunyi. Pintu kaca raksasa pun terbuka.

Gigi naik lift ke lantai tiga dan selamat sampai di depan pintu apartemennya. Ia membuka dompet, mengeluarkan kartu yang berbeda. Kartu digesekkan, lantas tangannya menekan-nekan tombol sesuai kombinasi yang ia atur sebagai sandi. Pintu terbuka (lagi).

Tak ada sambutan apapun saat ia melangkah masuk. Dibukanya sepatu, dilepasnya kaus kaki, dan dilemparnya ke keranjang cucian yang kosong. Langkahnya otomatis terayun menuju toilet untuk mencuci tangan dan kaki, sebuah kebiasaan yang ia lestarikan jika baru pulang dari mana-mana. Ia ingat belum maghrib dan isya, maka ia sekalian ambil wudhu, lalu menunaikan sholat jama’ ta’khir.

Selesai sholat dan ganti baju, Gigi berkeliling rumah untuk menyalakan alat-alat elektronik. Dimulai dari kulkas, yang sebelum pulang kabelnya ia cabut; water purifier, yang efektif mengurangi pengeluarannya untuk membeli puluhan botol air mineral siap minum; perangkat wifi (Gigi tidak punya tivi, tidak suka nonton tivi, tapi ketergantungan internet), dan microwave, sebab ia perlu menghangatkan vegetarian kebab yang tadi ia beli di bandara.

Sembari menunggu kebab dihangatkan gelombang mikro, Gigi menyambungkan koneksi wifi ke telepon genggamnya.

Satu malam lagi ditemani notifikasi.


Feb 10

Arah (part 4)

Galuh kehilangan. Jika diingatnya ia tak lagi punya jadwal les privat di Jum’at sore dan Sabtu pagi, ia merasa agak cukup sangat kehilangan.

Gigi menyelesaikan tugasnya dengan sempurna, namun lesap dengan segera tanpa memberi kesempatan pada Galuh untuk menyelenggarakan iven balas jasa.

Galuh berusaha menemukannya di sudut-sudut kampus, di hall, di minimarket, di bus, di acara-acara PPI dan pengajian bulanan, tapi nihil hasilnya karena Gigi seperti menarik diri secara total dari peredaran.

Galuh mengerti, Gigi perlu ruang dan konsentrasi untuk merampungkan tesisnya yang ternyata sempat terabaikan akibat Rencana Besar Perbaikan Prestasi. RBPP. Tapi justru karena itu, ia merasa makin bersalah dan membawa hutang kemana-mana.

Kabar terakhir yang Galuh dengar, Gigi sedang pulang ke Indonesia untuk mengambil data.

"Gigi itu beda, luh," Abrar, ketua Departemen Olahraga PPI menasehatinya saat break latihan basket. “Dia itu detached, kayak seneng main tunggal. Emang gitu dari jaman degree. Gue kan satu angkatan sama dia di ekonomi.”

"Tapi dia baik kok sama gue."

"Lah siapa yang bilang dia jahat? Gue cuma bilang dia itu penyendiri, mandiri gitu lah pokoknya, nggak suka bergerombol kayak orang Asia Tenggara pada umumnya."

"Masa sih ada orang yang nggak perlu temen?"

Abrar mengangkat bahu. “Meneketehe. Ada kali, temennya… di twitter, hahaha. Gue rasa orang-orang kayak Gigi itu malah jaringannya di dunia maya lebih luas, terus pertemanannya level internasional, ngebahas isu-isu penting. Nggak main dia gosip-gosip kampus atau obrolan cetek-cetek.”

"Ah gimana nih."

"Gimana apaan?"

"Kalau dia nggak butuh apa-apa, gue balas budinya gimana?"

"Telat sih. Aturannya pas masih belajar-belajar bareng kemaren, lo tanya, apa kesusahan dia ngerjain tesis, ada yang bisa dibantu nggak. Apa kek, nyebarin kuesyoner kek, nyariin jurnal kek."

"Wakacau gue gak kepikiran."

"Atau! Nanti kan dia viva tuh.."

"Apaan tuh viva?"

"Sidang, nyet."

"Oh."

"Biasanya kalau viva harus bikin poster akademik. Lo bukannya jago desain poster? Lo tawarin aja biar lo yang bikinin poster, dia tinggal kirim materi dan tahu beres."

"Gila lu Brar, jenius," Galuh merentangkan tangannya untuk memeluk Abrar sebagai ungkapan rasa terimakasih. Menyadari gestur tersebut, Abrar sontak menjauh seraya memberi kecaman keras. "Heh awas aja lu meluk-meluk! Lengket, Nyet."

"Tapi kan keringet gue ga bau."

Abrar mengacuhkan pembelaan diri Galuh. “Kalau gue bilang, orang yang penyendiri dan jarang wawar-wawar kemana-mana kayak Gigi itu cuma butuh satu hal: didengerin. Lo bayangin aja berapa banyak yang dia pendem sendiri… wah lama-lama kenyang makan problematika.”

Galuh mengangguk-angguk. Tumben, obrolannya dengan Abrar bisa begini mencerahkan pikiran.


Feb 9
  • A: "I see lonely people everywhere."
  • B: "How do you know if they're lonely?"
  • A: "They are sitting alone in public places with a cup of coffee as their company; busy tapping, scrolling, smiling to a gadget. I mean, you would not need to second guess."

“Belajar”

Orang-orang itu telah melupakan bahwa belajar tidaklah melulu untuk mengejar dan membuktikan sesuatu, namun belajar itu sendiri, adalah perayaan dan penghargaan pada diri sendiri.

— Andrea Hirata

(via puspichan)

(via ashrirs)


Feb 8

Arah (part 3)

Gigi ingin Galuh berhasil. Jika dilihatnya bagaimana manusia yang tadinya lunglai dan hilang arah itu mulai menemukan semangat hidup, Gigi ingin Galuh berhasil. Ingin sekali.

Gigi bersyukur Galuh tidak banyak tanya maupun protes-protes saat diperkenalkan pada Sistem Penilaian Bintang Kuning. SPBK.

Galuh adalah proyek edukasi pertamanya. Demi mencetuskan pola yang efektif dalam menyelamatkan anak itu dari keterpurukan, Gigi riset bermalam-malam.

Berbagai kata kunci dicobanya di Google.

"Cara meningkatkan motivasi belajar"

“Gaya belajar efektif”

“Melawan rasa malas saat belajar”

“How to be excited for school”

“Reward system vs punishment”

Ratusan artikel bermunculan.

Terimakasih, Google.

Selesai mengembangkan Sistem Penilaian Bintang Kuning, Gigi beringsut mengerjakan tantangan selanjutnya; menyederhanakan materi kuliah.

Gigi paham posisi Galuh. Bagaimana mungkin ia sanggup menganalisa kasus long-term debt jika membedakan shareholder dengan stakeholder saja Galuh belum bisa?

(Kadang Gigi tak habis pikir; masih ada saja orang-orang yang merumitkan benda-benda mudah demi mempertahankan status sebagai superior; Si Tahu Segala)

Galuh termasuk ‘anak didik’ yang nurut, manut, dan bersungguh-sungguh. Ia mau dibantu. Tak pernah sekalipun ia tak muncul dalam sesi belajar bareng saban Jum’at sore dan Sabtu pagi, meski sesekali telat sepuluh menit. Ia juga tak pernah datang dengan tangan hampa. Selalu ada berbungkus-bungkus kudapan dan minuman dingin yang ia atur rapi di atas meja; seolah Gigi adalah guru privat yang harus dijamu dan dihormati.

***

Firasat Gigi rupanya benar.

Galuh bukan seorang gagal akademik yang sekolah untuk gaya-gayaan. Sebaliknya, ia justru anak jenius yang tersesat. Kecepatannya dalam menyerap materi membuat Gigi tercengang-cengang.

Saat Finance mulai terlihat terang baginya, Galuh jadi aktif bertanya dan berpartisipasi di kelas.

Dalam waktu dua minggu, ia berhasil membebaskan diri dari prediket mangsa favorit Profesor Othman.

Di minggu ke-sepuluh, ia berani mempresentasikan jawaban dan analisanya untuk kasus taxation; yang berbuah pujian “excellent” dari Prof Othman.

Dan pada Monthly Test ke-tiga,

ia dapat A.

Masa bodoh dengan Sistem Penilaian Bintang Kuning, Gigi menyerahkan hadiahnya saat itu juga: jaket musim dingin Uniqlo yang licin dan tak perlu disetrika.


Arah (Part 2)

Part 1

Galuh ingin membalas budi. Jika diingatnya bagaimana kalimat “help me help you” yang Gigi lontarkan pada satu selasa di minggu ke-7 itu menjadi titik balik kehidupan paska-sarjananya yang lesu, ia ingin membalas budi. Ingin sekali.

Sebelum Gigi datang, Galuh banyak mengisi harinya dengan mengutuk dan menyesal. Ia menyesal mengambil keputusan untuk lanjut kuliah di jurusan yang tak familiar. Ia menyesal mengabaikan pertanyaan saudara-saudaranya yang kerap berbunyi senada, “ngapain sarjana sastra inggris ngambil master administrasi bisnis?

Ia menyesal tidak berhati-hati memilih mata kuliah; dikiranya Financial Management hanya akan diisi tips-tips mengatur keuangan dan pengeluaran harian. Ia menyesal sok-sok-an menyambung di luar negeri; padahal baru kali ini pisah jauh dari keluarga dan karenanya diserang homesick bertubi-tubi.

Kehadirannya di kelas Financial Management betul-betul sekadar penggembira. Ia dikucilkan; rekan sekelasnya yang kebanyakan pirang dan bermata biru seperti enggan mengajaknya bergabung dalam study group mereka; dan ia kenyang dipermalukan di depan kelas.

Lebih dari apapun,

ia benci merasa tolol dan tak berguna.

Dalam kesibukannya menyesal dan membenci, Galuh lupa bahwa ia bisa, dan boleh, minta bantuan.

Tak terkira bahagia Galuh ketika Gigi menawarkan kesepakatan yang — dilihat dari segi manapun— hanya akan menguntungkan Galuh.

Gigi bergerak amat cepat. Keesokan hari setelah peristiwa bersejarah “Help me help you” atau HMHY (Galuh menamainya begitu), ia di-briefing oleh Gigi mengenai Rencana Besar Perbaikan Prestasi.

RBPP.

"Jadi pakai sistem bintang, Luh," Gigi menunjuk tabel yang telah digambarnya di selembar karton putih.

"Kalau kamu datang kelas dan nggak telat, tiga bintang. Kalau datang tapi telat, satu bintang. Kalau nggak telat tapi pas ditengah-tengah kuliah kamu ketiduran, atau kalau lupa bawa buku teks, dua bintang."

Gigi kemudian mengambil sesuatu dari dalam tasnya: ratusan stiker bintang berwarna kuning.

Galuh menahan tawa. Ini lelucon. Mahasiswa s2 di-reward dengan stiker bintang warna kuning?

Dipandangnya Gigi dengan teliti. Gadis itu tidak sedang bercanda. Raut mukanya berketetapan, penuh determinasi. Galuh batal tertawa. Ia bahkan merasa malu sampai hati mau menertawakan niat setulus ini.

"Kan perkuliahan masih ada tujuh minggu lagi. Berarti totalnya 14 kelas. 14 kali 3 sama dengan 42. Jika pada akhir semester, bintang yang terkumpul berkisar antara 36-42, dengan asumsi kamu mungkin akan telat sekali-dua, ketiduran sekali dan gabawa buku sekali, kamu berhak mengklaim hadiah."

"Sumpah?"

"Hm. Dan hadiahnya udah kubeli."

"Apa? Sepeda?"

"Bukan. Kemahalan."

"Kipas angin?"

Gigi melotot garang. “Enak aja.”

"Mini compo?"

"Kamu pikir ini lomba gerak jalan?!"

Galuh hanya tergelak. Ia janji akan balas budi.


Bretet News

Selamat sore pemirsa. Berikut kita dengarkan laporan langsung dari Pekanbaru, Riau.

"Akibat mati lampu selama hampir tujuh jam di kota Pekanbaru, Kinsyu, seorang pemudi yang tidak bisa nyalain laptop karena baterainya soak dan tidak bisa pula internetan karena perangkat wifi-nya hanya bisa beroperasi apabila ada daya listrik, akhirnya tergerak untuk berkarya.

Bermodalkan iTouch dan aplikasi pencatat ‘evernote’, ia siap menelurkan beberapa episode dari sebuah seri terbaru bertajuk Arah.

Dikutip dari sinopsis resmi Arah the series, cerbung ini mengisahkan tentang Gigi, seorang mahasiswi master semester akhir yang prihatin melihat Galuh, mahasiswa master semester satu yang tertatih dan kabur-kaburan dari kelas Finance. Ia ingin membantu namun tidak punya cukup keberanian, hingga suatu hari, dosen yang bernama Profesor Othman memanggilnya untuk berdiskusi perihal Galuh. “I want you to approach him and help where it needs.” Inilah kesempatan Gigi.

Belum diketahui apakah cerbung tersebut akan diupdate secara reguler karena panggilan berkarya biasanya berbanding lurus dengan minimnya distraksi dan disfungsi fasilitas hiburan yang disebabkan oleh mati lampu. Walhal, mati lampu berkepanjangan seperti ini sudah jarang terjadi di Kota Bertuah.”

Sekian laporan kali ini.

Selamat sore dan selamat berakhir pekan.


Terbalik (bagian 3)

1

2

“It’s perfect right here! Perfect foods, perfect weather, absolutely perfect!” di televisi, seorang pembawa acara berusia 50 tahun-an yang berbadan agak tambun mengomentari liburan sempurnanya di Toulouse, Prancis.

Rania bagai tersengat listrik.
Could perfect be a problem?

Pria itu kini usai menjelajah Toulouse dan mulai merinci rencananya untuk lanjut berpetualang ke Italia.

"I’ll see you next week!" ia menutup acara dengan riang; lantas meneruskan usaha gigihnya menyedot siput keluar cangkang. Rania bergidik. Ia tak pernah mengerti mengapa manusia, human being, bisa menikmati kuliner yang bahan utamanya siput, dan atau, kelinci.

Layar televisi menunjukkan kelebat gambar untuk episode selanjutnya. Tampak pria tambun tak henti-henti makan es krim dan aneka pasta, merecok ke dapur pembuatan pizza, mengunjungi Colloseum kala cuaca cerah, menunaikan agenda wajib naik gondola sambil dibuai nyanyian pengayuh sampan, dan ngobrol santai dengan nelayan-nelayan Napoli. Preview yang cukup apik.

Ketika credit title sudah turun, Rania mencoba-coba segala kombinasi acak dan berharap menemukan tontonan lain yang sama menariknya.

Bola, bola, film action, film horor, talkshow, talkshow, berita tengah malam, dokumenter tentang penanganan bencana di negara maju, bola lagi, dan siaran ulang fashion week entah di kota apa.

Ia mematikan tivi, agak kecewa karena di saat ia benar-benar perlu isu pengalih —sesuatu yang bisa membuatnya lupa akan pertanyaan pop-up yang mengguncang dunia tadi— televisi justru enggan bekerjasama.

"Could perfect be a problem?"

Kemungkinan itu menakuti Rania. Bagaimana pula seseorang yang begitu baik, layak, dan ideal, justru jadi akar dari semua permasalahan?

Tak perlu waktu lama sebelum ia dapat jawabannya.

Masalah akan timbul jika ideal disandingkan dengan non-ideal.

Jadi ini bukan soal Faris, the you.

Bukan pula soal Rania, the me.

Ini soal kombinasi timpang antara Faris dan Rania,

the us.


Jan 29
“Enthusiasm is more important to mastery than innate ability, it turns out, because the single most important element in developing an expertise is your willingness to practice. Therefore, career experts argue, you’re better off pursuing a profession that comes easily and that you love, because that’s where you’ll be more eager to practice and thereby earn a competitive advantage.” Gretchen Rubin, The Happiness Project (via kuntawiaji)

smooshypie:

don’t say nice things to me or i get flustered and start crying

happens everytime.

(via daydreamshinee)


Page 1 of 274